“BAGAIMANA JIKA?” (Pertanyaan Yang Memberikan Kecemasan dan Ketakutan)

Posted on Posted in Hope, Others

“Bagaimana jika”, mungkin adalah salah satu hal yang paling dapat membuat hidup kita dipenuhi rasa takut dan rasa cemas. Di dalam hidup saya, telah berkali-kali pertanyaan “bagaimana jika” ini muncul, tetapi saya menemukan bahwa bukan saya saja yang memiliki pertanyaan ini di dalam hidup, tokoh-tokoh di Alkitab pun berkali-kali memilikinya:

  • Ketika Musa diminta Tuhan untuk memimpin Israel, dia berkata kepada Tuhan: “Bagaimana jika mereka tidak mempercayaiku?”
  • Ketika saudara-saudara Yusuf hendak datang ke Mesir, mereka berkata: “Bagaimana jika Yusuf menyimpan dendam kepada kita?”
  • Ketika hamba Abraham hendak membawa istri bagi Ishak, dia berkata: “Bagaimana jika perempuan itu tidak mau ikut denganku?”

Mereka semua berandai-andai bagaimana jika hal yang tidak mereka inginkan lah yang terjadi. Sama seperti kita yang berandai-andai bagaimana jika kehidupan kita sampai pada sebuah keadaan yang paling kita takuti. Bagaimana jika pasanganku meninggalkanku? Bagaimana jika aku terkena kanker? Bagaimana jika aku kehilangan pekerjaanku?

Kebenarannya adalah: Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup kita akan lancar bebas dari segala masalah, tetapi Dia menjanjikan bahwa Dia akan bersama kita di dalam setiap langkah hidup kita.

Kita tidak bisa kabur dari masalah-masalah yang akan datang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap orang ada di antara tiga ini: sedang berada di dalam masalah, sedang berjalan keluar dari dalam masalah, atau sedang berjalan masuk ke dalam sebuah masalah. Masalah di dalam hidup adalah sesuatu yang sewaktu-waktu akan kita temui—mau kita dekat dengan Tuhan atau pun tidak dekat dengan Tuhan, masalah akan tetap ada.

APAKAH TUHAN CUKUP?

Ketika masalah-masalah ini datang, pertanyaannya adalah: Apakah Tuhan cukup bagimu? Banyak yang mengatakan bahwa ketika kamu berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkannya, itu adalah bukti bahwa imanmu kepada Tuhan kuat. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa iman kepada Tuhan yang kuat tidak terbukti melalui itu. Iman kepada Tuhan yang kuat adalah ketika kita berdoa kepada Tuhan dan ternyata Tuhan tidak mengabulkannya, tetapi kita tetap setia kepadaNya dan mengatakan bahwa Dia cukup bagi kita.

Tentu sulit rasanya untuk tetap mengatakan Tuhan baik ketika hal buruk terjadi ke dalam hidup kita. Kita seringkali tau bahwa mengatakan “Tuhan cukup bagiku” adalah hal yang tepat untuk dikatakan, tetapi ketika kita digencet dari segala arah oleh hal-hal buruk di sekitar kita, rasanya sangatlah sulit untuk mengatakannya dengan segenap hati.

Setiap saat saya kesulitan untuk mengatakan “Tuhan cukup bagiku,” saya akan melihat kembali ke salib Kristus dan mengingatkan diri saya akan apa yang telah Tuhan perbuat. Tuhan telah mengalahkan “bagaimana jika” yang terburuk, yaitu: “Bagaimana jika Yesus Kristus tidak turun ke dunia untuk menebus dosa-dosaku? Bagaimana jika aku masih terperangkap di dalam dosa-dosa ku?”

Ketika saya ingat kembali bahwa “bagaimana jika” terbesar sudah dikalahkan, seluruh “bagaimana jika” lainnya menjadi terlihat tidak sebesar sebelumnya. Pertanyaan “bagaimana jika saya meninggal,” yang dulunya memiliki jawaban “masuk ke dalam perapian seumur hidup,” kini memiliki jawaban “masuk ke dalam kerajaan kekal bersama Allah Bapa.” Bukankah itu sangatlah luar biasa?


Setelah saya mengerti akan betapa luar biasanya pengorbanan Kristus, saya menjadi mengerti pernyataan “bahkan jika” yang dinyatakan oleh tokoh-tokoh di Alkitab.

  • Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berkata: “Kami percaya Tuhan akan menyelamatkan kami dari perapian itu, tetapi bahkan jika Dia tidak menyelamatkan kami, kami tetap tidak akan menyembah dewa lain selain Tuhan!”
  • Raja Daud berkata: “Bahkan jika aku berjalan di lembah kelelaman, aku tidak akan takut, sebab Tuhan besertaku!”
  • Para rasul-rasul berkata: “Bahkan jika kami dilempari batu dan diancam mati, kami tidak akan berhenti menyatakan apa yang telah kami lihat dan kami dengar dari Kristus Yesus!”

Marilah kita memandang salib Kristus dan mengingat kembali apa yang telah Dia lakukan untuk kita! Marilah kita ubah pemikiran “bagaimana jika” di dalam hidup kita menjadi sebuah pernyataan “bahkan jika”!

Aku akan tetap menyembah Tuhan bahkan jika aku ada di rumah sakit!

Aku akan tetap menyembah Tuhan bahkan jika aku telah disakiti oleh orang yang aku cintai!

Aku akan tetap menyembah Tuhan bahkan jika aku kehilangan segalanya di dunia ini!

CHRIST IS MORE THAN ENOUGH!


Jika kalian suka dengan artikel Kristen / renungan Kristen hari ini, jangan lupa share dan add official line kami ya^^

Kalian juga dapat lihat artikel-artikel dan renungan-renungan terbaru lainnya dengan scroll terus ke bawah.

Have a nice day, God Bless!

Add official line account kami untuk mendapatkan artikel Kristen / renungan Kristen dari kami setiap hari.

Add Friend

 

About the author:

Revy Halim (@revyhalim) adalah penemu dan penulis renungan utama dari Grace Depth.

Dia saat ini melayani sebagai pembicara dan pembina dari Davis Alive di Davis, California.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *