Coffee, Tea, or Me?

Posted on Posted in Jesus, Others

Gambar di atas merupakan foto dari baju yang sering saya pakai dulu waktu SMA. Seringkali ketika saya sedang mengenakannya, saya akan menaikkan alis kanan saya dan bertanya ke teman perempuan saya: “Coffee? Tea? Or Me?” (#cowokgenit).

Ga laaa… Ga laaa… Becanda doang, saya tidak semenjijikan itu.

 

Tetapi sesungguhnya, di dalam cerita-cerita Alkitab, Yesus seringkali menanyakan hal ini kepada pengikut-pengikut-Nya. Tentunya Ia tidak bertanya “Kopi? Teh? Atau Aku?” Ia akan menanyakan sesuatu hal yang lain yang mirip seperti ini, contohnya:

“Kekayaan? Kesehatan? Atau Aku?”

“Pacarmu? Keluargamu? Atau Aku?”

 

Tentunya harta dan kesehatan bukanlah hal yang buruk, ini adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini. Pacar dan keluarga juga bukanlah sesuatu yang buruk, mereka adalah orang-orang yang ada di dalam hidup kita untuk kita berbagi kasih. Namun, jika itu semua menggantikan posisi Yesus sebagai nomor satu di hatimu, itu baru akan menjadi sebuah masalah.

 

Seringkali di dalam Alkitab, Yesus memberikan pilihan kepada pengikut-pengikut-Nya; apakah mereka rela meninggalkan hal-hal nomor satu mereka untuk mengikut Yesus?

 

Lukas 18 menceritakan tentang seorang pemuda kaya yang ingin mengikut Yesus. Namun, Yesus menyuruhnya untuk meninggalkan seluruh harta kekayaannya terlebih dahulu, barulah ia datang kembali dan mengikut Yesus. Yesus memberikan sebuah pilihan kepada pemuda kaya ini, “Money? Or Me?” Tetapi, sang pemuda kaya ini akhirnya memilih untuk pulang dan tidak jadi mengikut Yesus karena ia tidak rela meninggalkan hartanya yang sangat banyak. Setelah itu Yesus mengatakan: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

 

Tetapi yang menariknya, tepat satu pasal setelah cerita ini (Lukas 19), Alkitab menceritakan tentang seorang yang juga sangat kaya. Orang kaya yang kali ini bernama Zakheus. Zakheus adalah seorang pemungut cukai—ia adalah seorang penipu yang mengambil uang rakyat secara tidak adil. Namun, Lukas 19:1-10 menceritakan bahwa setelah Zakheus bertemu Yesus, ia dengan semangat berkata kepada Yesus: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Lukas 19:8).

 

Setelah itu Yesus mengatakan: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:9-10).

 

Sang pemuda kaya dan Zakheus sama-sama merupakan orang yang sangat kaya, dan mereka sama-sama diperhadapkan dengan sebuah pilihan: “Money? Or Jesus?”

 

Sang pemuda kaya memilih hartanya, sedangkan Zakheus memilih Yesus. Setelah bertemu Yesus, Zakheus sadar bahwa Yesus jauh lebih berharga dari segala harta kekayaan yang ia miliki. Ia tidak berpikir dua kali antara memilih mengikut Yesus atau menyimpan seluruh harta miliknya.

Saya tidak tau hal apa yang sedang berkompetisi dengan Yesus di dalam hatimu saat ini. Mungkin itu adalah uang, mungkin itu adalah sebuah hubungan dengan seorang kekasih, mungkin itu adalah sebuah adiksi. Tetapi hari ini Yesus bertanya kepada dirimu dan diriku, “Apa yang akan kamu pilih? Hal-hal lain itu? Ataukah diri-Ku? Yang manakah yang lebih berharga untukmu?

 

“The Kingdom of Heaven is like treasure hidden in a field. When a man found it, he hid it again, and then in his joy went and sold all he had and bought that field. Again, The Kingdom of Heaven is like a merchant looking for fine pearls. When he found one of great value, he went away and sold everything he had and bought it” (Matthew 13:44-46).