Dia Yang Dibesarkan Oleh Para Bandit

Posted on Posted in Illustration, Jesus

Namaku Arlo. Aku tidak pernah mengenal ayah dan ibu kandung ku; sejak aku kecil, aku dibesarkan oleh para bandit. Para bandit telah menjadi keluargaku, mereka mengajarkan kepadaku bahwa uang adalah hal paling penting di dunia ini. Mereka mengajarkan kepadaku cara hidup mereka; jadi sejak kecil, aku sudah mulai belajar untuk mencuri. Aku seringkali menindas mereka yang lemah, dan aku bahkan tidak ragu-ragu untuk membunuh siapa pun yang berani melawanku.

Ketika aku berumur dua puluh tahun, aku sudah menjadi seorang bandit ternama. Para prajurit menetapkan sebuah bayaran besar bagi siapa pun yang dapat menangkapku.

 

Pada suatu hari, aku tiba-tiba diikat oleh para bandit yang lain. Mereka menyerahkanku kepada para prajurit, mereka menukarku untuk sebuah bayaran uang yang besar. Mereka yang selama ini aku pikir merupakan keluargaku… Mereka mengkhianatiku… Mereka menjualku demi sebuah kantung uang dan emas.

Tangan dan kakiku diborgol, aku dimasukkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah. Setelah seminggu, mereka mengumumkan kepada rakyat bahwa aku akan dieksekusi mati dalam beberapa hari. Sudah tidak ada harapan bagiku, aku berkata kepada diriku sendiri: “Aku akan mati oleh karena semua yang telah aku lakukan.”

 

Akhirnya hari eksekusi pun tiba. Seorang prajurit datang dan membuka sel penjara ku. Ia memaksa ku untuk keluar dari dalam sel, dan… Ia membuka borgol di tangan dan di kaki ku, dan ia berkata, “Kamu bebas!”

Aku sangat terkejut!

“Tapi kenapa? Aku harusnya dihukum mati hari ini!”

“Mari aku tunjukkan kenapa,” kata prajurit itu.

 

Prajurit itu membawa ku ke sebuah ruangan terbuka, dan disana aku melihat seorang laki-laki berlumuran darah yang kaki dan tangan nya dipaku ke sebuah salib kayu.

Prajurit itu berkata, “Kemaren, seorang Raja dari sebuah Kerajaan yang sangat kuat datang dan meminta kami untuk melepaskanmu. Tetapi kami menolaknya karena keadilan harus ditegakkan. Jadi Ia menawarkan nyawanya sebagai ganti nyawamu. Ini adalah surat terakhir yang ia titipkan kepada kami, ia meminta kami untuk memberikannya kepadamu.”

Aku membuka surat itu, dan aku melihat sebuah foto. Foto seorang ayah yang sedang menggendong bayinya. Dan di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat,

“I love you, Son.”

 

Sesungguhnya, kita lah Arlo itu. Sejak kecil, dosa merengut kita dari Tuhan. Dosa mengajarkan kepada kita cara hidup versinya sendiri; dosa mengajarkan kita untuk mencintai uang, dosa mengajarkan kita untuk menjadi egois, dan dosa mengajarkan kita untuk menyakiti orang-orang di sekitar kita. Pada akhirnya, kita semua seharusnya dihukum mati, kita seharusnya mendapatkan apa yang setimpal atas perbuatan kita. Tetapi Yesus datang dan menawarkan nyawa-Nya sebagai ganti nyawa-mu dan nyawa-ku. Sehingga hari ini, dirimu dan diriku boleh terlepas dari belenggu-belenggu dosa dan menjadi bebas di dalam kasih-Nya.

 

“But God shows His love for us in that while we were still sinners, Christ died for us” (Romans 5:8).