Kasih Di Dalam Pernikahan (Apa Yang Saya Pelajari Dari “Fireproof”)

Posted on Posted in Uncategorized

Jika seseorang bertanya kepadamu, “Apakah film romance favorit-mu?”

Apa jawab-mu?

Mungkin beberapa akan menjawab Titanic, Beauty and The Beast, The Vow, dan lain-lain. Untuk saya, film percintaan favorit saya berjudul “Fireproof.” Mungkin tidak banyak yang pernah menonton nya, dan gambar nya tidak terlihat se-HD film-film lain nya, tapi saya sangat menyukai pesan yang film ini sampaikan.

Fireproof menceritakan kisah tentang sepasang suami istri yang telah menikah selama lima tahun. Mereka sangatlah saling mencintai satu sama lain ketika mereka pertama kali menikah, namun itu semua berubah setelah mereka hidup bersama selama lima tahun, dan kini mereka sedang berjalan menuju perceraian.

Saya tidak akan menceritakan apa isi cerita dari film tersebut, tetapi saya akan menuliskan pelajaran penting apa yang telah saya peroleh melalui film tersebut.

 

  • Pernikahan bukanlah sebuah Contract, pernikahan adalah sebuah Covenant.

Pernikahan bukanlah tentang “kamu sekarang menjadi milik ku,” pernikahan adalah tentang “aku sekarang menjadi milik mu.”

Sebuah contract mengatakan bahwa jika satu buah pihak melanggar sesuatu di dalam perjanjian, maka perjanjian tersebut akan berakhir.

Namun sebuah covenant mengatakan bahwa pelanggaran oleh satu buah pihak, tidak akan mengakhiri perjanjian tersebut, selama pihak yang dirugikan tetap memilih untuk melanjutkan perjanjian tersebut.

 

  • Sepasang suami istri adalah bagaikan sepasang garam dan lada.

Garam dan lada adalah dua hal yang sangatlah berbeda—warna mereka berbeda, rasa mereka berbeda, dan tekstur mereka berbeda. Tetapi entah mengapa kita selalu melihat mereka bersama-sama.

Mengapa?

Jawaban nya: Karena mereka melengkapi satu sama lain.

Setelah sepasang kekasih menikah, hari demi hari mereka akan menemukan perbedaan-perbedaan baru diantara mereka. Namun itu bukan berarti suatu hal yang buruk. Pernikahan bukan saja tentang mencintai persamaan antara dirimu dan pasangan mu, tetapi juga tentang belajar mencintai perbedaan-perbedaan diantara diri mu dan pasangan mu.

 

  • Pernikahan di dalam Tuhan adalah sebuah pernikahan yang fireproof (tahan api).

Fireproof bukan berarti api tidak akan pernah datang; melainkan, saat api datang, ia dapat bertahan menghadapi nya. Di dalam pernikahan akan muncul percikan api, dan terkadang api itu akan membakar bagian dari pernikahan mu. Tetapi itu bukan berarti yang harus kamu lakukan adalah pergi dan meninggalkan rumah mu, namun yang harus kamu lakukan adalah memadamkan nya dan menyelamatkan nya. Saya memiliki kenalan seorang pemadam kebakaran yang sangat luar biasa yang dapat memadamkan api yang memakan rumah mu, Ia bernama Tuhan Yesus, dan kamu bisa menelpon nya dengan sebuah handphone yang dinamakan Doa.

 

  • Hanya satu hal yang dapat membuat pernikahanmu bertahan, dan hal itu adalah Kasih.

“Kamu tidak bisa mencintai nya, karena kamu tidak bisa memberikan apa yang tidak kamu miliki.” Seseorang tidak bisa sungguh mengasihi pasangan nya sebelum ia mengenal kasih yang sesungguhnya. Dan 1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa Tuhan lah kasih tersebut. Satu-satu nya sumber kasih yang sebenarnya adalah Tuhan. ‘Kasih’ yang berasal dari manusia cenderung didorong oleh imbalan, “saya akan mengasihimu, jika kamu memberikan ‘kasih’ yang setimpal.” Namun kasih yang sesungguhnya tidak pernah meminta imbalan; Kasih yang sesungguhnya mengasihi karena didorong oleh kasih itu sendiri. Love is never self-seeking.

 

Saya menuliskan tentang pernikahan, meskipun saya tau kebanyakan yang akan membaca artikel ini adalah para remaja, karena sesungguhnya pacaran tidak lah jauh dari pernikahan. Jika seseorang memilih untuk berpacaran dengan mu tanpa berpikir untuk menikah dengan mu, bukankah itu berarti dia tidak pernah mencintai mu dengan serius? Bukankah itu berarti secara tidak langsung ia berencana untuk mengakhiri hubungan tersebut suatu saat di masa depan?

Janganlah menikah karena keindahan fisik seseorang, karena segala keindahan fisik akan memudar dengan berjalan nya waktu. Janganlah menikah karena kekayaan seseorang, karena uang tidak dapat membeli kebahagiaan yang sebenarnya. Bahkan, janganlah menikah karena “Sparks” yang kamu rasakan ketika kamu bersama-sama dengan nya, karena sparks itu tidak akan bertahan selama nya. Tetapi menikahlah karena kasih yang kamu lihat di dalam hidup seseorang, karena kasih akan bertahan, ia tidak mengenal lelah dan tidak akan pernah menyerah.

“And now these three remain: faith, hope, and love; but the greatest of these is love. Love Never Fails.”