Memberikan Tuhan Sisa-Sisa Kita

Posted on Posted in Uncategorized

Pernahkah ketika bubaran gereja, anda berkata kepada teman anda: “Lagu nya hari ini kurang enak ya,” “pastor nya membosankan yang hari ini,” atau “kotbah nya terlalu lama hari ini.” Saya tidak tau tentang kalian, tapi itu semua adalah kalimat yang berulang kali keluar dari mulut saya ketika saya kurang puas dengan sebuah kebaktian gereja. Seringkali ketika saya ke gereja, saya menilai gereja tersebut sesuai dengan apa yang saya harapkan: apakah saya menyukai kotbah yang disampaikan, tentang apakah saya menyukai musik nya, apakah saya menyukai jemaat-jemaat lain disana. Padahal gereja seharusnya adalah tentang apa yang Tuhan harapkan dan apa yang Tuhan inginkan. Sesungguhnya, ini semua bukanlah tentang apakah kita menyukai kebaktian gereja tersebut, melainkan apakah Tuhan menyukai kebaktian tersebut—apakah nama-Nya dipermuliakan di kebaktian itu.

 

Sebelum saya melanjutkan ke poin yang ingin saya sampaikan, marilah kita lihat terlebih dahulu illustrasi berikut.

Siapa yang disini tidak suka ayam Mcd? Saya sih sangat menyukai ayam Mcd, dan saya yakin banyak dari kalian juga menyukai ayam Mcd. Nah, sekarang coba bayangkan, anda dihidangkan ayam Mcd favorit anda. Lalu anda memakan nya dengan begitu lahap, daging yang empuk dan kulit yang renyah pun habis, hingga tinggal tersisa tulang dan sedikit daging yang menempel.

Lalu seorang kepala negara datang ke tempat anda berada. Apakah menurut mu layak jika ayam Mcd sisa itu kau berikan kepada kepala negara tersebut?

Tentu saja tidak! Bahkan pimpinan negara serendah hati Jokowi pun tidak mungkin mau memakan ayam Mcd sisa mu itu.

Apalagi Tuhan sang pencipta langit dan bumi. Seringkali secara tidak sadar kita memberikan sisa-sisa dari hidup kita untuk nya. Sesungguhnya kita tidak memberikan yang terbaik untuk nya, kita memilih untuk menyimpan yang terbaik bagi diri kita sendiri, dan memberikan yang tersisa untuk-Nya.

 

“Saya tau Tuhan ingin saya mengasihi orang-orang yang berkekurangan di luar sana. Tapi saya butuh mobil baru dan makan di restoran bintang 5 itu. Jadi yah mungkin saya menyumbang sedikit saja bulan ini”—kita menggigit ayam kita satu kali.

“Ga sabar main game baru yang baru saja dibeli. Saya kurangi waktu untuk saat teduh sedikit deh. Toh yang penting masih saat teduh”—satu gigitan lagi.

Hal seperti ini terus dan terus terjadi, kita memilih untuk menggunakan waktu dan apa yang kita miliki untuk diri kita sendiri. Sama seperti ayam Mcd yang kita gigit sedikit demi sedikit, dan akhirnya kita hanya memberikan Tuhan apa yang tersisa dari itu semua, sebuah tulang dengan sedikit daging yang masih menempel.

 

Dan yang ironis nya seringkali kita berpikir setelah kita memberikan tulang sisa tersebut, Tuhan akan berlari ke tulang itu dan memungut nya dengan sukacita. Kita berpikir Tuhan akan senang dengan apa saja yang kita berikan kepada-Nya, bahkan jika itu adalah sebuah tulang sisa.

Maleakhi 1:6-14 tertulis:

Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”

Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!”

Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

Maka sekarang: “Cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!” Oleh tangan kamulah terjadi hal itu, masakan Ia akan menyambut salah seorang dari padamu dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

Sekiranya ada di antara kamu yang mau menutup pintu, supaya jangan kamu menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak suka kepada kamu, firman TUHAN semesta alam, dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu.

Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.

Tetapi kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka: “Meja Tuhan memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh dihinakan!”

Kamu berkata: “Lihat, alangkah susah payahnya!” dan kamu menyusahkan Aku, firman TUHAN semesta alam. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN.
Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.

 

Maleakhi menceritakan bagaimana imam-imam pada zaman itu memberikan korban yang cacat bagi Tuhan, dan menyimpan yang baik untuk mereka sendiri. Tuhan menegaskan bahwa Ia adalah Tuhan pencipta alam semesta, Ia Raja di atas segala Raja. Dan para imam ini mencoba untuk menghina nama-Nya dengan memberikan ‘sisa-sisa’ mereka.

Apakah kalian ingat persembahan Kain dan Habel? Tuhan mengindahkan pengorbanan Habel, tetapi pengorbanan Kain tidak. Namun mengapa? Toh Kain juga memberikan persembahan yang lumayan bagus bukan?

Jawaban nya: Karena Kain memilih untuk menyimpan yang terbaik, sedangkan Habel memilih untuk memberikan yang terbaik.

God wants all or nothing.

Antara kita memberikan segalanya dari hidup kita bagi-Nya, atau tidak sama sekali.

Mungkin akan ada pendeta-pendeta yang berkata “ohhh konteks nya hanyalah tentang imam pada masa itu dan tentang korban bakaran. Bukan berarti kita harus memberikan segalanya dari apa yang kita punya untuk Tuhan. Tuhan juga ingin kita menikmati hidup dan memiliki hidup yang nyaman dan menyenangkan memiliki rumah dan mobil yang baik.”

Ya benar Tuhan ingin kita untuk menikmati hidup kita, tetapi ia ingin kita memiliki sukacita dan kenikmatan di dalam-Nya. Saya tidak mengatakan memiliki rumah dan mobil adalah suatu hal yang salah. Namun terkadang kita lupa akan Tuhan, dan sumber sukacita kita malah berasal dari benda-benda tersebut, dan bukan bersumber dari Tuhan itu sendiri. Yang unik nya ketika saya melihat orang-orang yang memberikan seluruh hidupnya untuk Kristus, saya tidak melihat seseorang yang sedih karena ia tidak dapat menikmati rumah dan mobil yang bagus—yang saya lihat adalah sukacita.

Janganlah berpikir Tuhan ada untuk memuaskan segala yang kita inginkan. Ia bukanlah sebuah jin yang ada untuk memenuhi kehendak dan permintaanmu. Tuhan adalah Tuhan yang besar, Ia adalah Tuhan yang menciptakan bumi dan seluruh isi nya; kita ada untuk memuliakan nama-Nya.