Mengubah Diriku, Mengubah Hubunganku

Posted on Posted in Forgiveness, Hope, Illustration, Love, Relationship

Kris dan Lisa sudah menikah selama tujuh tahun; mereka memiliki sebuah rumah yang indah dan juga dua bayi yang begitu lucu. Namun, pernikahan mereka sedang hancur berantakan, dan mereka sedang berjalan menuju perceraian. Mereka bertengkar hampir setiap hari; Lisa merasa Kris lah penyebab pertengkaran-pertengkaran ini, sedangkan Kris merasa sifat arogan Lisa lah yang menyebabkan awal mula pertengkaran terjadi. Kris tidak ingin hubungan pernikahan mereka berakhir dengan sebuah perceraian; dia mencoba segala cara untuk merubah sifat Lisa yang tidak ia sukai, mulai dengan membicarakan nya baik-baik hingga memperdebatkannya dengan marah-marah. Tetapi sepertinya tidak ada satu cara pun yang berhasil; jadi pada malam itu, Kris berlutut dan berdoa kepada Tuhan.

Kris tidak mendengar sebuah suara jelas dari Surga atau semacamnya, tetapi entah mengapa ia merasa Tuhan berbisik kepada nya, “Kamu tidak dapat merubah istrimu, tetapi kamu dapat merubah dirimu sendiri.” Jadi pada malam itu, entah mengapa Kris mengambil sebuah pena dan sebuah kertas. Ia merasa Tuhan berbisik kepada nya: “Tuliskanlah satu hal yang kamu sukai dari Lisa. Tuliskanlah satu hal yang menurutmu dapat membuat Lisa senang. Dan tuliskanlah satu hal yang sering kamu lakukan yang membuat Lisa tidak senang.”

 

“Hmmm… Aku suka ketika Lisa menggunakan kaca mata. Ia merasa diri nya terlihat culun saat memakai kaca mata, tetapi aku merasa kaca mata membuat nya terlihat sedikit lebih imut.”

“Lisa suka sekali dengan makanan manis, apalagi dengan coklat. Ya, aku masih ingat dessert coklat pisang pada kencan pertama kami, ia sangat menyukai nya.”

“Kita sering sekali bertengkar karena aku tidak mau berkunjung ke rumah orang tua nya. Yah mungkin tidak ada salah nya berkunjung setelah begitu lama tidak bertemu.”

 

Akhirnya, keesokan pagi nya, Kris bertemu dengan Lisa yang sedang memakai kaca mata. Wajah Lisa masih terlihat begitu asam karena pertengkaran kemaren malam. Sejujurnya, Kris juga malas untuk berinteraksi dengan istri nya, tetapi ia menelan itu semua, dan ia berkata: “menurut ku, kamu terlihat cantik menggunakan kaca mata.” Lisa melihat Kris dengan pandangan yang penuh kebingungan; lalu ia berjalan masuk kamar tanpa membalas Kris sedikit pun. Kris pun menjadi sangat kesal, tapi ia mencoba untuk menelan amarah nya, dan memutuskan untuk diam saja.

Pada siang hari, Kris membelikan dessert coklat pisang yang dulu mereka makan pada kencan pertama mereka. Lisa terkejut ketika melihat dessert coklat pisang tersebut, tetapi ia mencoba untuk tidak memperlihatkan kesenangan nya kepada Kris. Akhirnya Lisa memakan dessert tersebut, sambil mencoba untuk menutupi kebahagiaan nya merasakan kemanisan dessert favorit nya.

Pada malam hari, Kris mengajak Lisa untuk pergi ke rumah orang tua nya. “Kita ke rumah orang tua kamu yu, kan sudah lama kita tidak berkunjung,” ujar Kris. Lisa pun bingung, selama ini Kris selalu marah ketika ia mengajak nya untuk berkunjung ke rumah orang tua nya. Akhirnya mereka berdua pergi berkunjung ke rumah orang tua nya bersama dengan kedua anak mereka.

 

Pada malam itu setelah mereka pulang ke rumah, Kris mencoba untuk menuliskan hal yang sama. Satu hal yang ia sukai dari Lisa, satu hal yang dapat membuat Lisa senang, dan satu hal yang ia biasa perbuat yang Lisa tidak sukai.

“Mungkin ini sedikit aneh, tapi aku senang ketika aku berbuat hal bodoh, dan Lisa tertawa sambil mengatai aku dodol.”

“Lisa senang ketika ia hendak melakukan suatu aktivitas atau pergi ke suatu tempat, aku menawarkan diri untuk menemani nya melakukan aktivitas itu bersama nya.”

“Lisa tidak suka aku minum-minum di bar bersama teman-teman hingga subuh. Aku tau ia melarang ku karena ia sebenarnya khawatir hal-hal buruk terjadi bila aku mabuk.”

 

Akhirnya, keesokan pagi nya, Kris menceritakan kejadian bodoh yang terjadi kepada nya di kantor kemaren. Lisa memandang Kris dengan asam, lalu ia berkata: “Dodol!” Kris membalas sambil tertawa kecil, “Ye kayak lu ga aje!”

Pada siang hari, Lisa hendak pergi ke mal untuk membeli sebuah buku. Kris lalu mengambil kunci mobil dari tangan Lisa, “Yu aku temenin.” Lisa melihat Kris dengan penuh kebingungan, dan akhirnya mereka pergi ke mal bersama.

Pada malam hari, Kris pergi makan bersama teman-teman nya. Setelah selesai makan, mereka pergi ke bar. Setelah sekitar sejam, Kris melihat jam dinding yang sudah hampir menunjuk angka 12. Kris lalu berpamitan kepada teman-teman nya, dan ia pulang untuk bertemu dengan Lisa. Lisa bingung mengapa hari ini suami nya bisa pulang sepagi ini, tetapi ia memilih untuk diam dan tidak menanyakannya kepada Kris.

 

Hari demi hari, inilah yang Kris coba lakukan. Setiap hari, ia memperingati diri nya akan satu hal yang membuat nya mencintai Lisa, ia memberikan satu hal yang menurutnya dapat membuat Lisa tersenyum, dan ia mencoba untuk melepas satu hal yang mungkin dapat membuat sebuah pertengkaran diantara mereka. Pada mula nya, semua yang Kris lakukan tidak menunjukkan perubahan besar, Lisa masih membalas Kris dengan raut wajah cemberut. Namun, itu tidak membuat Kris berhenti; ia terus mencoba, mencoba, dan mencoba. Kris bukan hanya mencoba untuk membuat Lisa mencintai nya kembali, ia juga mencoba untuk mengingatkan dirinya untuk mencintai Lisa kembali. Setelah dua bulan Lisa melihat perubahan di dalam diri Kris, ia mulai bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kris. Sesuatu dari diri nya berubah.

Akhirnya pada suatu malam, Lisa memeluk Kris sambil menangis, lalu ia berkata kepada suami nya: “Aku juga ingin mencintai mu kembali seperti kamu mencintai ku kembali.”

 

Kita selalu mencoba untuk merubah pasangan kita menjadi sebuah versi yang kita ingini. Seringkali kita berkata, “Tuhan! Berikanlah aku seorang pasangan yang baru!”

Dimana seharusnya kita berseru, “Tuhan! Berikanlah pasangan ku sebuah versi baru dari diri ku!”

Sebuah versi yang lebih sabar, sebuah versi yang tidak mengingat-ingat kesalahan di masa lalu nya, sebuah versi yang memikirkan perasaan nya, sebuah versi yang tetap mengasihi nya apa pun yang terjadi.

Saya tidak tau bagaimana keadaan hubungan mu dengan pasangan mu saat ini. Tetapi hari ini saya ingin mengingatkan, “kunci awal untuk merubah hubungan mu, bukanlah dengan merubah pasangan mu, melainkan dengan merubah diri mu sendiri.”

 

Because finding a relationship is not just about finding the right one,

It is more about being the right one.”

 

Because marriage is not just about “You are now mine,”

It is more about “I am now yours.”

 

Because lasting relationship is not determined by the one being love,

But rather by the one choosing to love.

 

Because unconditional love is not about “I love you, if…”

It is about “I love you, even if…”

 

Because true love is not something that comes from within us,

It is a gift that we received from God, and a gift that we share with others.