Panggilan Untuk Mengasihi

Posted on Posted in Love

Beberapa tahun yang lalu, saya menemukan berita tentang munculnya sebuah grup vegetarian baru. Para vegetarian ini berisikan anak-anak muda yang menyebut diri mereka vegetarian, tetapi mereka masih suka makan daging. Seorang anak perempuan dari grup vegetarian ini mengatakan, “saya adalah seorang vegetarian, tapi saya makan bacon.”

Bukankah definisi dari vegetarian adalah orang yang tidak memakan daging? Dan bukankah bacon adalah sebuah daging? Jika begitu, bagaimana cara nya kamu dapat menyebut dirimu vegetarian jika kamu memakan bacon di dalam kehidupan sehari-hari mu?

Kejadian ini membuat para vegetarian asli menjadi marah, “kalian harus menggunakan nama lain. Jangan menggunakan nama vegetarian jika kalian akan berkeluyuran memakan daging.” Akhirnya para vegetarian baru ini menetapkan sebuah nama baru bagi mereka, dan nama itu adalah “flexitarian”—mereka tidak memakan daging, kecuali mereka benar-benar suka dengan daging itu.

Poin saya adalah: grup baru ini mengatakan bahwa mereka adalah seorang vegetarian, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan komitmen dari nama yang mereka gunakan. Untuk beberapa orang, mereka menggunakan sebutan “pengikut Yesus,” mereka mengatakan bahwa mereka seorang “Kristen,” tetapi hidup mereka tidak mencerminkan Kristus. Bukankah attribut utama dari Yesus adalah kasih? Dan bukankah Yesus mengatakan bahwa pengikut-Nya yang sesungguhnya adalah mereka yang memiliki kasih?

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35).

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8).

Orang Kristen (Pengikut Yesus) seharusnya mencintai Yesus dengan sepenuh hati mereka, dan mencerminkan kasih kepada orang lain melalui hidup mereka. Itulah arti dari nama “Kristen / Pengikut Yesus.” Namun, seringkali kita menyebut diri kita sebagai Kristen, tanpa mencoba untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita. Atau terkadang, kita memilih siapa orang yang mau kita kasihi, dan siapa orang yang tidak mau kita kasihi.

“Saya mengasihi semua orang, kecuali orang itu benar-benar menyebalkan dan layak untuk dibenci, maka saya tidak akan mengasihi orang itu.”

“Saya mau memaafkan semua orang, kecuali orang itu tidak layak mendapatkan pengampunan, maka saya tidak akan pernah memaafkan orang itu.”

“Saya akan berbuat baik kepada sesama, kecuali orang itu berbuat jahat kepada saya, maka saya tidak mau membantu nya jika ia membutuhkan pertolongan.”

Bagaimana seorang dapat mengatakan “Saya mengenal Yesus” atau “Saya seorang Kristen”, tetapi tidak mau mengasihi, memaafkan, dan menolong orang lain?

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Matius 5:46-47).

Hari ini saya ingin mengajak kita semua untuk bukan hanya menyebut diri kita sebagai seorang Pengikut Yesus, tetapi juga mencerminkan-nya di dalam hidup kita melalui kasih kita. Sehingga dunia boleh tau, bahwa kasih Kristus bagi dunia ini sungguh luar biasa, dan Kasih-Nya adalah sesuatu yang dunia ini butuhkan.

The World teaches us to love, if…
But God teaches us to love, even if…