Paulus – To live is Christ and to die is Gain

Posted on Posted in Uncategorized

Sekitar 2000 tahun yang lalu, seorang bernama Paulus dimasukkan ke dalam penjara.

Ia dipenjarakan bukan karena ia seorang pembunuh atau pun pencuri; ia dipenjara karena ia memberitakan injil Yesus Kristus. Orang-orang berpikir bahwa dengan dipenjarakannya Paulus, pergerakkan Kristen akan terhenti—penangkapan Paulus akan menjadi contoh akan apa yang akan terjadi kepada para Kristen yang tidak berhenti menyebarkan injil Yesus Kristus. Tetapi yang luar biasa nya, ternyata sebalik nya lah yang malah terjadi. Pemenjaraan Paulus malah memberikan keberanian dan semangat kepada Kristen-Kristen lainnya untuk maju menyebarkan injil Yesus Kristus. Paulus tidak kehilangan harapan di dalam penjara itu, dia penuh dengan harapan dan sukacita. Paulus memiliki sukacita yang jauh lebih besar di dalam penjara gelap itu dibanding kebanyakan Kristen hari ini yang berjalan di hari yang terang.

Apa rahasia nya? Apa yang memberikan sukacita dan semangat kepada Paulus?

Ia mengatakan nya kepada kita di Filipi 1:21:

“For to me, to live is Christ, and to die is gain.”

Paulus hidup di dalam Kristus. Ia sadar bahwa ia telah mendapatkan hidup baru setelah bertemu dengan Yesus Kristus.

Paulus dulu nya adalah Saulus, seorang penganiaya terkejam, musuh terbesar komunitas Kristen pada masa itu—dia telah menyakiti dan bahkan membunuh begitu banyak umat Kristen. Namun Yesus Kristus sendiri menemui Paulus di dalam perjalanan nya ke Damascus. Tetapi Yesus menemui Paulus bukan untuk menghancurkan Paulus; namun untuk menyelamatkan nya, untuk mengampuni nya, dan untuk mengubah hidup nya. Saulus mungkin lahir dari kedagingan, namun Paulus lahir dari Roh Kudus.

 

Paulus bukan hanya hidup di dalam Kristus, tetapi ia juga hidup melalui Kristus.

Paulus sadar bahwa kekuatannya bukanlah berasal dari diri nya sendiri, tetapi kekuatan itu berasal dari Tuhan. Ia sadar bahwa ia hanyalah sebuah bejana dari tanah liat, tetapi bejana tersebut dipenuhi oleh harta surgawi yang dinamakan Kasih Karunia Kristus.

 

Paulus hidup di dalam Kristus, ia hidup melalui Kristus, dan ia hidup untuk Kritus.

Seorang pendeta yang sukses bukanlah seorang pendeta yang memiliki gereja besar, ribuan jemaat, atau pun rumah yang besar. Seorang pendeta yang sukses adalah seorang yang rendah hati dan tau bahwa ia adalah seorang hamba dari Tuhan sang pencipta alam semesta. Seorang pendeta yang sukses adalah seorang yang selalu menaruh fokus nya kepada Yesus Kritus—segala yang ia lakukan dalam pelayanan nya tertuju untuk memuliakan nama Yesus Kristus.

 

Salah satu kisah paling menarik dari kisah Paulus dapat ditemukan di Kisah Para Rasul 9, Tuhan menitipkan pesan kepada Ananias untuk pergi kepada Paulus yang baru saja bertobat:

“Aku akan menunjukkan kepadanya betapa banyaknya ia harus menderita demi nama-Ku” (Kisah Para Rasul 9:16).

Dari awal Tuhan menunjukkan kepada Paulus semua yang akan ia alami.

Paulus melihat penderitaan dan penganiayaan yang akan datang.. Dan dia berkata YA!

Paulus melihat rajaman batu, cambuk, dan penjara.. Dan dia berkata YA!

Paulus melihat kematian yang akan menimpa nya jika ia tidak berhenti menyebarkan injil Yesus Kristus.. Dan dia tetap berkata YA!

AKU AKAN TETAP MENGIKUT ENGKAU.. KEMANA PUN, KAPAN PUN.. AKU BUKAN LAGI MILIK KU, AKU SEKARANG SEPENUH NYA MILIK MU YESUS!

 

Apa yang akan terjadi jika Tuhan menyatakan hal yang sama kepada kita? Apakah kita akan berkata “Ya Yesus!” atau apakah kita akan mundur sedikit demi sedikit menuju pintu keluar?

Banyak dari kita berpikir mati demi nama Kristus adalah bagian para ‘martir’ atau ‘Kristen ekstrim.’ Mati demi Kristus adalah untuk Paulus, Petrus, dan orang-orang pilihan Tuhan lain nya. Sedangkan kita adalah ‘Kristen normal’; Kristen yang tugas nya hanyalah ke gereja setiap hari Minggu dan mencoba untuk tidak melakukan terlalu banyak dosa. Dan yang kita inginkan adalah “rumah dan mobil bagus, aku berdoa dalam nama Tuhan Yesus.”

Alkitab mengatakan kepada kita untuk menyelidiki hati kita. Apakah “to live is Christ and to die is gain” adalah suatu yang nyata dari hidup Kekristenan mu? Apakah Yesus Kristus sungguh Tuhan atas hidupmu?

 

Paul lived in Christ.

He lived through Christ.

He lived for Christ.

 

Not because he was an apostle,

Not because he was a leader of the church.

 

But because he was a Christian.

~Peter Hockley

 

inspired by Peter Hockley’s “To live is Christ”