Kisah Sarung Tangan (Ilustrasi Kehidupan Kekristenan)

Posted on Posted in Faith, Illustration

Sesungguhnya, kita tidak bisa memiliki kehidupan Kekristenan di dalam dunia ini dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, karena kita tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya. Satu-satu nya cara agar kita bisa menjalankan kehidupan Kekristenan di dalam hidup ini, adalah jika Yesus menggerakkan kehidupan itu melalui diri kita.

Saya akan memberikan sebuah ilustrasi yang sangat simple, dan mungkin terdengar sedikit bodoh. Tetapi saya yakin kalian pasti dapat mengerti apa yang saya maksud melalui ilustrasi ini.

 

Di atas meja terdapat sebuah sarung tangan. Ini adalah sebuah “work gloves,” sebuah sarung tangan yang didesain untuk bekerja—untuk mengangkat, membangun, dan melakukan banyak pekerjaan lain nya.

Lalu saya bilang ke sarung tangan tersebut, “Hai sarung tangan, angkat buku itu!”

… … … Tidak terjadi apa-apa.

 

Mungkin sarung tangan ini membutuhkan sebuah motivasi. “Ayo sarung tangan, kamu pasti bisa! Kamu diciptakan untuk mengangkat buku itu!”

… … … Tetap tidak terjadi apa-apa.

 

Mungkin sarung tangan ini butuh sebuah pengajaran bagaimana cara mengangkat buku itu. “Ayo sarung tangan, jadi begini caranya, kamu pegang buku itu disini, dan eratkan jari-jari mu seperti ini.”

… … … Tetap tidak bisa.

 

Mungkin sarung tangan ini membutuhkan sebuah fellowship. Ayo kita kumpulkan sarung tangan lain nya di dekat sarung tangan ini, dan lihat apa yang terjadi.

… … … Tetap tidak ada apa-apa.

 

Atau mungkin sarung tangan ini membutuhkan sebuah komitmen. Ia harus mendedikasikan hidupnya kembali untuk menjadi sebuah sarung tangan. Mengangkat tangan, maju ke depan, dan dibaptis—mungkin itu akan membuat nya melakukan sesuatu.

… … … Tentu saja itu tidak akan merubah apa-apa.

 

Saya yakin kalian sekarang pasti sudah mengerti poin yang ingin saya buat. Meskipun sarung tangan tersebut didesain untuk melakukan sebuah pekerjaan, ia tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun, hinga sebuah tangan yang hidup masuk ke dalam nya dan melakukan pekerjaan melalui sarung tangan tersebut. Dan begitulah bagaimana cari hidup Kekristenan bekerja. Kita tidak dapat mencintai seseorang unconditionally, kita tidak dapat keluar dari pornografi, kita tidak dapat berhenti menjadi orang yang egois dengan kekuatan kita sendiri. Kita didesain untuk memiliki kapasitas melakukan itu semua, tetapi kita tidak memiliki kekuatan untuk melakukan nya.

Satu-satu nya cara untuk memiliki hidup Kekristenan yang sesungguhnya adalah dengan membiarkan Kristus yang bekerja melalui kita.

 

I have been crucified with Christ, and I no longer live, but Christ lives in me.

The life I live in the body, I live by faith in the Son of God, who loved me and gave Himself up for me.

-Galatians 2:20-