20k7

 

by: Inggrid Agustina Lumbantobing

6 Jan 2018

Dalam setiap pencobaan ataupun pergumulan memang semua akan indah pada waktunya karena semua sudah dirancang sempurna oleh Sang Maha Pencipta. Jadi, sebagai ciptaannya kita harus berpengharapan dan bersyukur dalam setiap hal apapun juga yang terjadi di dalam hidup kita baik suka maupun duka sekali pun.

Memang kisah tentang hidupku tidak seberat yang dialami oleh hamba Tuhan Ayub, dimana dia harus kehilangan segalanya baik itu keluarga, kekayaannya, sahabatnya bahkan dia difitnah. Selama tahun 2017 lalu memang banyak sekali pencobaan silih berganti di dalam hidupku dan harus diawali dengan ayahku yang jatuh sakit hampir sebulan dan tidak diketahui apa penyakitnya. Kami memang tinggal di kota kecil sehingga peralatan rumah sakitnya pun tidak dapat mendeteksi penyakit ayahku. Ayahku terus mengeluh pada bagian perutnya sekaligus mual yang terus – menerus sampai berat tubuhnya mengalami penurunan karena sedikit makan. Kami sudah lelah karena ayahku tidak kunjung sembuh karena sudah berbagai obat kami berikan mulai dari obat dari dokter dan obat tradisional. Kami terus berdoa kepada Tuhan dan bersyukur karena semua orang di dekat kami terus mendukung dan mendoakan kesembuhan ayahku. Akhirnya, kami membawa ayahku ke rumah sakit di salah satu kota besar yang sudah ada peralatan canggihnya. Sesampai di sana, ayahku diperiksa dan ternyata dia mengalami prostat sehingga perlu dilakukan operasi. Saat operasi, kami semua berdoa kepada Tuhan agar segala proses operasi dapat berjalan dengan lancar dan Puji Tuhan semua dapat berjalan dengan baik. Setelah seminggu pasca operasi, ayahku akhirnya diizinkan untuk pulang namun harus melakukan check-up sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Selama ayahku dirawat oleh ibuku, tubuhnya sudah kelelahan sehingga merasakan sesak di dadanya karena memang ibuku menderita penyumbatan jantung oleh lemak sehingga harus rawat inap. Pada saat itulah aku merasakan puncak kesedihanku dan pikiranku campur aduk bahkan aku tidak sadar meneteskan air mata karena aku tidak tahu harus bagaimana. Kemudian aku menjaga mereka bersama kakakku secara bergantian dan akhirnya mereka berdua dapat pulih kembali.

Kemudian pencobaan datang lagi kepada keluarga kami dimana kebahagiaan yang belum sempat kami rasakan lama harus dihapus dengan kematian kakak sepupuku karena penyakit jantung. Belum tepat seminggu setelah kematian kakakku ,kami juga harus mendengar kabar kalau kakak kandungku mengalami kecelakaan motor dimana dia mengalami patah tulang dan sedikit benturan di kepalanya. Namun, hal yang paling kukhawatirkan adalah ibuku karena terus menangis sepanjang perjalanan kami ke rumah sakit. Sesampai di sana, kami menangis melihat kakakku tidak berdaya di ruang ICU dan ibuku terus menangis tidak mau pergi dari ruang itu sehingga harus dipaksa keluar oleh perawat  di sana. Kakakku harus dioperasi untuk memasang pen di tulangnya. Hampir sebulan kakakku berada di rumah sakit dan akhirnya diizinkan pulang oleh dokter.

Perjalanan pencobaan keluarga kami belum sampai di situ karena peristiwa inilah yang paling menyakitkan dalam hidupku juga keluargaku dimana ibuku harus pergi untuk selama-lamanya. Aku ingin memberontak kepada Tuhan dan memohon kepadanya untuk diberikan kesempatan hidup kepada ibuku. Hari itu terasa mimpi bagiku karena sehari sebelum dia meninggal kami masih berkomunikasi lewat telepon genggam dan dia masih sehat tetapi esok paginya saat ibuku berada di rumah  kakakku untuk menjaga dia yang masih belum sembuh karena kecelakaan itu, Sang Pencipta memanggil dia kembali bersamaNya. Tepat sebulan setelah kejadian kakakku kecelakaan, ibu pergi selama-lamanya akibat penyakit jantung yang sudah dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Ibuku akhirnya bahagia bersama Bapa namun aku percaya bahwa kami akan berjumpa kelak di tempat bahagia bersama-Nya.

Tahun yang penuh pergumulan dan berbagai tantangan iman harus kami hadapi dengan penyertaan Tuhan di hidup kami yang turun tangan menolong kami dalam kesesakan. Hal terbaik yang perlu kulakukan saat ini adalah menerima penderitaan seperti juga kesukacitaan, sebagai bagian dari hidup yamg memang harus kita jalani. Suka dan duka, senang dan sedih, tawa dan air mata adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita di dunia ini. Sebuah pepatah mengatakan bahwa setiap orang memikul salibnya sendiri yaitu setiap orang punya kesusahannya sendiri. Tidak ada orang yang hidupnya senang terus dan tidak ada orang yang hidupnya menderita terus. Yang terpenting sekarang adalah bahwa sebagai pengikut Kristus, kita harus memiliki fondasi dalam hidup kita yaitu iman. Iman memungkinkan kita melihat pelangi di balik badai sehebat apapun. Iman membuat kita tetap memiliki pengharapan walau hidup kita sepertinya di dalam kegelapan. Seperti Petrus menasehatkan jemaat bahwa pencobaan datang untuk membuktikan kemurnian iman yang jauh lebih tingi dari emas yang fana yang diuji kemurniaannya dengan api sehingga kamu beroleh pujian-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak. Jadi sebenarnya, dalam menjalani hidup ini tidak ada alasan untuk tidak bersyukur walaupun dalam pencobaan sekalipun. Justru dalm keadaan inilah iman kita menemukan bentuknyadan pengaharapan kita mendapat wujudnya. Tidak gampang memang, tetapi tidak berarti tidak bisa.