Mempercayakan Diri Ke Dalam Tangan Tuhan

by: Jessica Allo

9 Jan 2018

Satu setengah tahun lalu, saya bergumul mengenai cita-cita saya. Waktu itu saya sudah mau UN SMA dan baru kepikiran mau jadi apa di kemudian hari. Sebelum UN SMA, saya dan beberapa teman saya dipanggil untuk mengikuti tes minat dan bakat. Di daftar identitas, ada pertanyaan mengenai cita-cita dan saya bingung apa yang harus saya isi. Teman-teman saya yang lain semuanya bercita-cita menjadi dokter, oleh karena itu saya juga ikut seperti mereka. Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar dan ternyata minat dan bakat saya ada di bidang kedokteran.

Setelah itu, saya dan teman-teman saya mengikuti tes SNMPTN. Namun pada tahap pertama saya dan teman sekelas saya tidak lulus. Banyak teman saya yang kecewa, bahkan ada yang sampai menangis. Orangtua saya juga sangat kecewa. Namun, saya sendiri tidak terlalu merasa khawatir dan kecewa sebab saya tetap percaya bahwa ada rencana lain yang Bapa sediakan bagi saya dan teman-teman saya.

Kemudian saya mengikuti bimbel bersama teman saya untuk menghadapi SBMPTN. Disana saya belajar banyak dari teman saya. Darinya saya belajar untuk tekun dalam berdoa entah dalam hal sekecil apapun, rajin saat teduh, belajar untuk menghargai setiap pemberian yang didapatkan dan belajar caranya belajar karena saya termasuk anak yang malas belajar.

Di bimbel kami tiap akhir minggunya selalu ada try out dimana pada minggu-minggu awal try out, nilai saya rendah dan saya jadi pesimis. Namun, saya berdoa dan tetap berharap kepada TUHAN. Lalu, pada saat saya saat teduh malamnya, TUHAN memberikan saya sebuah ayat yang sangat menjadi kekuatan bagi saya waktu itu – Yesaya 52:3 “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan.” Walau saya sadar benar bahwa maksud dari Yesaya dalam ayat ini adalah TUHAN YESUS. Namun, saya tetap mengimani itu dan memegang itu sebagai janji TUHAN dalam hidup saya. Dan darisini juga saya mulai belajar memegang janji-Nya dan berserah penuh pada-Nya. Setelah itu, try out selanjutnya nilai saya mulai naik dan stabil terus.

Setelah selesai tes SBMPTN, saya dan teman saya mengikuti tes jalur mandiri di kota lain. Saya dan teman saya tempat ujiannya berbeda, namun karena tidak ada taksi di dekat hotel kami, kami naik taksi yang sama. Tapi, supirnya ternyata tidak tahu lokasi ujian saya dan teman saya sehingga kami berputar-putar di jalan, padahal waktu itu waktu ujiannya sudah sangat mepet, tapi puji TUHAN, di tengah perjalanan, ada satu taksi yang baru habis mengantar orang sehingga sudah kosong dan saya pun pindah ke taksi itu. Puji Tuhan lagi, pada saat kami menginjakkan kaki kami di tempat ujian, lonceng tepat berbunyi. Kemudian pada saat pulang, tidak ada taksi lagi karena semuanya sudah penuh dan jalanan macet total, sehingga saya dan mama saya yang menjemput saya berjalan kaki dari tempat ujian menuju hotel. Di dalam perjalanan, sandal yang dipakai mama saya sudah hampir putus, namun Puji Tuhan sandal mama saya masih dapat dipakai sampai kami tiba di hotel.

Keesokan harinya, saya, mama, dan sepupu saya pulang ke kota dimana kedua kakak saya berkuliah dengan menggunakan kereta. Awalnya, kami berencana menggunakan taksi biasa ke stasiun, namun semua taksi penuh dan tidak ada taksi yang lewat. Oleh karena itu, mama saya memesan taksi hotel. Saya duduk di kursi depan, namun tas saya sengaja saya tinggalkan di belakang. Saat sampai di stasiun dan mau check in, saya ingin mengambil kartu pelajar saya yang ada di tas, namun tas saya tidak ada dan saya sadar bahwa saya lupa mengambil tas.

Mama saya sudah sangat panik karena kami tidak memiliki nomor telepon hotel, jadi saya mencarinya di internet dan dapat. Namun ketika di telepon berkali-kali, tidak ada yang mengangkatnya sampai akhirnya diangkat dan ketika mama saya baru selesai berkata bahwa tas saya ketinggalan, sambungannya terputus. Lalu ditelepon lagi tetapi tidak diangkat. Singkat cerita, taksi hotel tersebut datang kembali membawa tas saya dan kami tidak ketinggalan kereta.

Tidak berhenti sampai disitu. Waktu itu saya, mama dan sepupu saya akan pulang ke kota asal kami, dan saat itu kami sudah berada di dalam ruang tunggu bandara. Lalu, sepupu saya mengajak pergi membeli minuman, namun dia mau membeli di mesin minuman yang berada di lantai bawah. Pada saat naik kembali ke atas, saya melihat info penerbangan dan ternyata pesawat yang akan kami naiki statusnya sudah panggilan yang terakhir. Saya memberitahu sepupu saya namun dia tidak percaya karena di tiket waktu penerbangannya itu masih sekitar setengah jam lagi dan menurut pengalaman kami, biasanya itu pesawat kebanyakan delay. Karena itu, saya mempercayainya dan dia juga ingin ke toilet sehingga kami singgah terlebih dulu. Saat kembali ke tempat tunggu, ternyata semua penumpang sudah masuk pesawat tinggal saya, mama, dan sepupu saya. Tapi, puji Tuhan, kami dapat pulang kembali dengan selamat.

Beberapa hari kemudian, pengumuman hasil SBMPTN keluar. Saya mengeceknya dan ternyata saya lulus di pilihan kedua, jurusan farmasi di universitas impian saya. Senang? Iya, namun di saat yang bersamaan saya bingung dan bimbang. Jujur, saya tidak memiliki cita-cita. Saya tidak ingin menjadi seorang farmasi atau seorang dokter. Namun yang menjadi pertimbangan saya waktu itu adalah jawaban TUHAN atas doa saya ketika Ia mendatangkan orang dari Jakarta untuk memberi saya dan teman-teman saya tes minat dan bakat dan impian orang tua saya yang ingin salah satu dari anaknya dapat menjadi seorang dokter. Walaupun begitu, saya tetap mengikuti setiap proses untuk jurusan farmasi tersebut, mulai dari tes kesehatan, menyelesaikan tugas-tugas ospek, dan membayar uang registrasi.



Sampai suatu ketika ada jalur mandiri untuk Fakultas Kedokteran di kota saya. Jadi mama menginginkan saya untuk mengikutinya dan saya pun mengikutinya walau hati berat karena uang pangkal yang begitu besar. Mulai dari daftar, tes, pengumuman, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya, saya dinyatakan lulus di FK yang ada di kota saya.

Semuanya belum berakhir. Yang menjadi pergumulan saya selanjutnya ialah apakah saya harus mengambil jurusan farmasi di kampus impian saya atau kedokteran di kota saya? Jujur, impian saya adalah saya dapat berkuliah di luar provinsi saya dan di kampus impian saya. Saat itu saya sudah meraih mimpi tersebut, saya sudah menyelesaikan tes kesehatan, membayar uang administrasi, menyiapkan alat-alat OSPEK dengan teman disana, tinggal OSPEK saja. Selain itu, saya juga pikir kembali tentang uang pangkal yang harus saya bayar kalau saya masuk ke fakultas kedokteran sebab saya masuk lewat jalur mandiri. Namun di sisi lain saya mengingat lagi impian orangtua saya dan panggilan Tuhan dalam hidup saya. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengesampingkan diri saya dan saya memilih untuk menaati panggilan Tuhan dalam hidup saya sekalipun harus ada harga yang dibayar.

Perjalanan yang saya lewati tidak mulus dan jalan yang harus saya lewati tidaklah rata. Namun melalui semua ini, saya belajar untuk mempercayakan seluruh kehidupan saya ke dalam tangan TUHAN dan berserah kepada Tuhan walau saya tidak dapat melihat apa yang sedang TUHAN rencanakan.

Mengikut YESUS bukanlah hal yang mudah bagi saya secara pribadi karena itu sama saja saya harus memikul salib, menyangkal diri, dan membayar harga. Namun saat melewati semua ini, saya tahu bahwa satu-satunya Pribadi yang pasti tidak akan mengecewakan saya hanyalah YESUS. Karena itu, saya datang di hadapan-Nya melepaskan segala ego, saya menyerahkan segala keinginan, cita-cita dan masa depan saya ke dalam tangan-Nya dan meminta TUHAN untuk memimpin langkah saya. Pimpinan ALLAH tidak pernah salah.

Yang ingin saya bagikan disini ialah percayakanlah seluruh hidup kita ke dalam tangan TUHAN dan ikutlah YESUS sampai akhir hidup. Apabila kamu merasa hidupmu tanpa arah dan tujuan, datanglah kepada-Nya dan Ia akan memberikan jawaban bagi setiap masalahmu. Bahkan Ia akan memberikan apa yang tidak pernah dilihat oleh matamu, atau yang didengar oleh telingamu, atau mungkin yang pernah timbul dari hatimu (1 Kor 2:9).

Percayalah bahwa masa depan kita cerah di tangan Tuhan sebab janji-Nya berkata “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11) dan janji-Nya itu pasti sebab “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” (Mazmur 12:7). TUHAN YESUS memberkati.

Matius 16:24

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”