Si Pencuri Hash Browns

Posted on Posted in Illustration

Pada quarter pertama saya di college, saya sering sekali memesan sesuatu yang dinamakan Paket Sarapan. Paket sarapan ini berisikan potongan-potongan bacon, dua telor ceplok, dan sebuah roti. Dalam seminggu saya dapat memesan paket sarapan ini hingga tiga kali di kantin college. Lalu, pada suatu hari, saya memesan paket sarapan dengan tambahan ekstra hash browns (hash browns adalah semacam jenis kentang goreng). Jika memesan tambahan hash browns ekstra, seharusnya akan dikenakan tambahan harga sebesar 1$.

Orang kantin tersebut meletakkan roti di paling atas, sehingga hashbrowns yang ada di bawah nya tidak kelihatan. Dan ketika saya membawa paket sarapan + ekstra hashbrowns tersebut ke kasir untuk membayar, si orang kasir tidak melihat tambahan hash browns itu, jadi ia menagih saya seharga paket sarapan normal. Ketika saya melihat itu, saya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa. Saya duduk dan memakan paket sarapan + hash browns tersebut, lalu otak jenius saya berbisik, “Gua mulai sekarang bisa makan lebih kenyang. Harga nya sama, dapet ekstra hash browns pula. Asek!”

Jadi sejak itu, setiap kali saya memesan paket sarapan, saya meminta sebuah hash browns tambahan dan meletakkan nya di bawah roti sehingga tidak terlihat. Saya merasa saya sangatlah jenius, dan saya menceritakan trik saya ini kepada teman-teman yang lain.

Namun, pada suatu hari ketika saya sedang mengatakan kepada teman saya tentang “kita harus hidup untuk memuliakan Tuhan,” tiba-tiba teman saya memotong pembicaraan saya dan mengatakan, “halah, lu aja masih nyolong hash browns.” Dan disana saya tertampar oleh kata-kata teman saya; saya sadar, saya adalah seorang pencuri hash browns yang sedang membicarakan tentang “kita harus hidup memuliakan Tuhan yang membenci ketidak adilan.”

Dan sejak itu saya pun berhenti menyelundupkan hash browns ke paket sarapan saya.

Hari ini, saya ingin mengajak kita untuk hidup jujur. Kita hidup jujur bukan untuk mendapatkan berkat lebih. Jangan berpikir karena kita tidak berbohong, maka orang lain akan berhenti berbohong kepada kita atau kita akan lebih mendapat banyak berkat karena kejujuran kita. Dengan saya tidak mencuri hash browns lagi, bukan berarti tiba-tiba pada suatu hari ibu kantin akan melihat kejujuran saya dan memberkati saya dengan 100 hash browns gratis. Saya justru malah akan kurang kenyang karena tidak mendapatkan kalori tambahan dari hash browns tersebut.

Jika kita tidak korupsi, bukan berarti suatu hari nanti kita akan menjadi orang yang lebih kaya dibandingkan dengan yang korupsi. Mungkin saja hingga kematian menjemput, orang yang korupsi tersebut tetap sangat kaya, dan kita tetap biasa-biasa saja.

Kita jujur karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Kita jujur karena itu yang Tuhan inginkan dari anak-anak-Nya. Upah dari kejujuran kita mungkin tidak akan terlihat secara fisik berupa kekayaan material di dunia ini, tetapi percayalah bahwa Tuhan menghargai kejujuran kita dengan memberikan kita kekayaan sesungguhnya yang tidak terlihat, kekayaan yang ada di dalam hati kita.

Marilah kita hidup jujur—mulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

“Whoever can be trusted with very little can also be trusted with much, and whoever is dishonest with very little will also be dishonest with much” (Luke 16:10).