Siapakah Yesus, BAGIMU?

Posted on Posted in Uncategorized

“Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 16:13-19).

[spacer height=”8px”]

Jika engkau bertanya kepada orang-orang yang non-Kristen, “Siapakah Yesus?” Mereka mungkin akan menjawab: “Dia adalah seorang pencipta agama Kristen, dia adalah seorang guru yang hebat, dia adalah Tuhan nya orang-orang Kristen, dan masih banyak lagi.” Sekarang, saya ingin bertanya kepada anda, “Siapakah Yesus?” Lebih tepat nya, “Siapakah Yesus bagimu?” Dan sesungguhnya ini bukanlah sebuah pertanyaan saya kepadamu, melainkan seperti Yesus yang bertanya kepada Petrus, Yesus juga memeberikan pertanyaan ini untukmu, “Siapakah Aku?”

[spacer height=”8px”]

Sesungguhnya ada banyak sekali pemimpin-pemimpin dengan ajaran-ajaran yang sangat bijak sebelum dan sesudah Yesus, seperti: Confucius, Buddha, dan masih banyak lagi. Sepanjang hidup mereka, mereka mengajarkan ajaran mereka kepada orang-orang dan akhirnya mengumpulkan banyak sekali pengikut (atau lebih tepatnya banyak orang yang memutuskan untuk mengikut mereka dan ajaran mereka). Setelah karakter pemimpin ini meninggal, ajarannya tetaplah hidup di dalam pikiran pengikut-pengikutnya, para pengikutnya lah yang melanjutkan ajaran tersebut. Mereka bersemangat mengabarkan ajaran tersebut kepada orang-orang karena mereka merasa ajaran yang dipegang pemimpin mereka sangatlah baik dan bijak.

[spacer height=”8px”]

Namun yang berbeda dari Yesus adalah: Seluruh ajaran Yesus bersumber dan berpusat pada diri-Nya sendiri. Dia mengatakan:

[spacer height=”8px”]

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35).

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya kepada domba-dombanya” (Yohanes 10:11).

[spacer height=”8px”]

Yesus mengatakan bahwa Dialah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Yesus mengatakan kepada para pengikut-pengikutnya untuk tidak hidup mencari roti dunia yang akan binasa, namun untuk mencari roti hidup yang barangsiapa memakannya, ia tidak akan lapar lagi; dan Ia mengatakan bahwa Dialah roti hidup itu. Yesus juga mengatakan bahwa Ia adalah gembala yang baik yang di saat satu domba hilang, Ia akan pergi mencari dan membawa domba itu kembali. Seluruh ajaran Yesus berdasar pada diri-Nya, bahkan dasar kita untuk mengasihi sesama bersumber dari kasih Yesus, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35).

[spacer height=”8px”]

Karena seluruh ajaran Yesus bersumber dan berpusat pada diri-Nya, ketika Ia mati di atas kayu salib, seluruh pengikutnya kehilangan semangat dan kekuatan mereka. Ajaran yang telah mereka pegang selama ini ikut mati ketika Yesus mati di atas kayu salib. Hampir seluruh pengikut-pengikut Yesus tidak hadir ketika Yesus disalibkan, bahkan Petrus yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Yesus, malah menyangkal Nya karena rasa takut dan melarikan diri bersembunyi. Dan selama tiga hari, Yesus besertakan ajaran nya terkubur.

[spacer height=”8px”]

Tetapi setelah tiga hari Yesus bangkit. Ketika Yesus bangkit, ajaran nya pun ikut bangkit besertakan pengikut-pengikut-Nya. Tiba-tiba Petrus yang pengecut dan melarikan diri, menjadi seseorang yang sangat berani dan akhirnya memimpin Kekristenan pada masa itu. Jika kita mengikuti sejarah, dituliskan bahwa Petrus pada akhir hidupnya disalibkan oleh karena pengabaran injil tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ketika ia hendak disalibkan, ia meminta supaya ia disalibkan terbalik, karena ia merasa tidak layak untuk mati dengan cara yang sama dengan Tuhannya, Tuhan Yesus Kristus. Sungguh, jika Yesus tidak bangkit, bagaimana caranya natur Petrus yang pengecut bisa berubah seratus delapa puluh derajat seperti itu—menjadi Petrus seorang yang sangat pemberani. Mari kita kembali kepada ayat pertama yang saya berikan pada bab ini, Yesus mengatakan:

[spacer height=”8px”]

“Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

[spacer height=”8px”]

Inilah kunci bagaimana Petrus berubah, bagaimana ia memperoleh kekuatan dan keberanian yang tidak masuk akal tersebut. Bukan karena kekuatan Petrus sendiri atau manusia mana pun, tetapi karena kuasa Allah. Dan pada hari itu Yesus mengatakan kepadanya, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus mengatakan bahwa Ia akan memberikan kunci Kerajaan Sorga. Apakah kunci Kerajaan Sorga yang Yesus maksudkan? Kunci kerajaan Sorga tersebut adalah diri-Nya sendiri, yang akan diberikan kepada Petrus dan juga kita dalam kebangkitan-Nya. Itulah sumber kekuatan Petrus, yang menjadikan Petrus batu karang dimana Tuhan membangun jemaat-Nya, yang bahkan kuasa maut tidak akan dapat menghancurkannya. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa apa yang kita pilih untuk kita ikat di bumi, akan terikat di Sorga; dan apa yang kita lepaskan di bumi, akan terlepas di Sorga. Jadi apakah engkau akan memilih untuk mengikat dirimu dengan Yesus di dunia ini atau apakah engkau memilih untuk melepaskan Yesus dari hidupmu di dunia ini?