Simbolisme Kekristenan di Balik “The Chronicles of Narnia”

Posted on Posted in Others, Story Behind ...

Apakah buku anak-anak terpopuler sepanjang masa? Menurut sebuah survey pada tahun 2008, kebanyakan orang percaya bahwa “The Chronicles of Narnia” patut menerima label itu.

The Chronicles of Narnia diciptakan oleh C.S. Lewis pada sekitar tahun 1950an. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya C.S. Lewis menuangkan banyak sekali simbol-simbol Kekristenan ke dalam ceritanya.

Pada tulisan ini, saya akan membahas dua simbolisme yang paling luar biasa dari The Chronicles of Narnia.

 

Aslan menggambarkan Yesus Kristus.

Pada ceritanya, Aslan terlihat seperti sebuah karakter yang sangat kuat dan berkuasa. Makhluk-makhluk yang lain terlihat sangatlah hormat dan takut akan kuasa yang Aslan miliki. Namun, di balik seluruh kuasa yang Aslan miliki, ia terlihat begitu lemah lembut dan rendah hati. Aslan menggambarkan pribadi Yesus Kristus yang seringkali dipanggil sebagai “The Lion of Judah” di Alkitab.

 

Kita akan menemukan Aslan mati di tengah-tengah cerita, dan ini menyebabkan hilangnya harapan untuk Narnia. Namun, Aslan akhirnya bangkit, dan ketika ia muncul kembali memperlihatkan dirinya kepada yang lain, semuanya langsung memperoleh semangat dan kekuatan mereka kembali. Kisah Aslan ini menggambarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang telah menang atas dosa.

 

Aslan juga ada memberikan sebuah kalimat yang menarik ketika ia sedang bersama Lucy dan Edmund di perbatasan antara Narnia dan Aslan’s country.

“But there I have another name. You must learn how to know me by that name. This was the very reason why you were brought to Narnia, that by knowing me here for a little while, you may know me better there.”

Percakapan ini memberitahukan kepada kita bahwa Narnia menggambarkan dunia manusia, sedangkan Aslan’s country menggambarkan Surga.

 

Di dalam ceritanya, Lewis tidak mengatakan kepada kita seperti apakah Yesus Kristus; ia menunjukkan kepada kita seperti apakah Aslan, dan ia membiarkan kita untuk menyadarinya sendiri mulai dari sana.

 

Eustace yang berubah menjadi naga menggambarkan manusia yang dikuasai oleh dosa.

Eustace menjadi naga oleh karena keserakahannya. Setelah ia menjadi naga, ia mencoba untuk melepas sisik naga nya dengan menggaruknya sendiri. Tetapi ia menemukan bahwa dibalik sisik naga nya yang berhasil ia kupas, ada sebuah sisik naga lain, dan ia tidak akan pernah dapat merubah dirinya sendiri yang telah berubah menjadi naga.

 

Ini menggambarkan kita sebagai manusia berdosa yang seringkali mencoba untuk melepaskan diri kita dari dosa dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. Kita akan menemukan bahwa seberapa kerasnya kita mencoba, kita tidak akan pernah berhasil terlepas sepenuhnya dari dosa dengan kekuatan kita sendiri.

 

Akhirnya, Aslan mencabik-cabik sisik naga Eustace dan memasukkannya ke dalam sebuah sumur. Ketika Eustace keluar, ia telah berubah kembali menjadi manusia. Aslan menggambarkan Yesus Kritus yang melepaskan diri kita dari dosa, dan keluarnya Eustace dari sumur itu menggambarkan pembaptisan.

 

Masih ada begitu banyak simbolisme lain di dalam The Chronicles of Narnia karangan C.S. Lewis ini, namun sepertinya tidak akan muat jika dituangkan hanya ke dalam satu artikel. Tuhan telah memberikan C.S. Lewis kemampuan unik untuk menulis dan mengilustrasikan tentang Kekristenan melalui tulisan-tulisan nya; tentu nya, dia juga dapat menggunakanmu untuk menyebarkan kasih karunia Tuhan Yesus dengan cara-cara unik lainnya sesuai dengan talenta yang telah Ia berikan kepadamu.